Rabu, 08 Mei 2013

Hewan yang Harus Dihindari Saat Hamil


Hewan-hewan di sekitar bisa membawa virus yang membahayakan
janin. Karena itu ibu hamil perlu jauh-jauh dulu dari hewan-hewan yang
ditengarai bisa membawa virus berbahaya. Hewan apa yang harus dihindari?

"Biasanya kalau berkaitan dengan toksoplasma terkait dengan binatang
peliharaan sehari-hari seperti ayam, burung, atau kucing," ujar dr M Nurhadi
Rahman, SpOG

Keberadaan ayam, burung, maupun kucing di sekitar ibu hamil memang sulit
dihindari. Sebab hewan-hewan tersebut kerap berkeliaran di sekitar rumah.
Karena itu penting bagi seorang perempuan untuk memeriksakan apakah dirinya
memiliki virus Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes Simplex
Virus (HSV) (TORCH).

"Ini biasanya tidak bergejala dan bisa menyebabkan kelainan pada janin seperti
autis dan lain-lain," imbuh dr Nurhadi.

dr Nurhadi menyarankan jika seorang peremouan sudah positif terkena TORCH,
diterapi dulu sebelum hamil hingga sembuh. Jika terapi dilakukan terlambat,
misalnya setelah 5 bulan kehamilan justru terlambat dan tidak berpengaruh
apa-apa. Hal ini dikarenakan pembentukan bayi itu terjadi pada 3 bulan
pertama.

Jika ibu hamil terinfeksi TORCH, bisa menyebabkan bayi lahir cacat, autisme,
dan bila menyerang saraf mata bisa berakibat pada kebutaan. TORCH juga bisa
menyebabkan perempuan sulit hamil.

Selain memeriksakan diri untuk memastikan bebas TORCH sebelum hamil dan
melakukan vaksinasi, pada saat hamil sebaiknya mengonsumsi makanan yang
bersih & bergizi. Jika makan daging, makanlah daging yang dimasak hingga
benar-benar matang.

Menjaga higienitas tubuh juga wajib dilakukan. Misalnya dengan selalu mencuci
tangan dengan sabun. Hindari pula kontak dengan pasien yang terinveksi virus
TORCH.

Selasa, 07 Mei 2013

Obat Migrain Pada saat Hamil Bisa Kurangi Kecerdasan Bayi

Penggunaan obat untuk
mengatasi migrain saat hamil sebaiknya
lebih berhati-hati. Badan Pengawas
Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA)
memperingatkan, obat migrain yang
mengandung asam valproat sebaiknya
tidak diminum saat hamil karena dapat
menurunkan kecerdasan bayi.

Direktur Divisi Produk Neurologi FDA Dr.
Russell Katz mengatakan, obat-obatan
yang mengandung asam valproat
seharusnya tidak boleh dikonsumsi oleh
wanita hamil sebagai pencegahan
migrain. Risiko dari penggunaan obat-
obatan ini lebih besar ketimbang
manfaatnya.

Obat-obatan yang mengandung asam
valproat telah disetujui FDA untuk tujuan
pengobatan beberapa penyakit, seperti
migrain, epilepsi, dan gangguan bipolar.

Peringatan dari FDA ini baru dibuat
setelah terjadinya kasus anak-anak yang
memiliki angka IQ yang lebih rendah 11
poin saat berusia 6 tahun. Setelah
ditelusuri, ibu mereka mengonsumsi obat
yang mengandung asam valproat saat
hamil.

Masih belum diketahui kapan tepatnya
pada periode kehamilan obat
mengandung asam valproat berpengaruh
pada penurunan kecerdasan bayi.
Namun pada studi yang dilakukan FDA
ini, para wanita yang diteliti mengonsumi
obat asam valproat sepanjang kehamilan
mereka.

Kendati demikian, obat-obatan
mengandung asam valproat tetap boleh
dikonsumsi saat kehamilan apabila
pengobatan lainnya tidak mampu untuk
mengatasi gejala epilepsi atau gangguan
bipolar pada sang ibu.

FDA mengatakan, wanita hamil boleh
mengonsumsi obat-obatan asam valproat
dengan tujuan pengobatan, bukan
pencegahan. Saat dalam pengobatan dan
terjadi kehamilan, sebaiknya segera
berkonsultasi dengan dokter untuk
mengetahui apabila penggunaan obat
bisa dihentikan sementara waktu.

Ada beberapa cara alamiah yang bisa
dilakukan calon ibu untuk mengatasi
migrain, antara lain beristirahat cukup,
rileksasi, sampai teknik pijatan tertentu.

Cara Aman Bercinta Saat Hamil


Menurut Dr Andri, bagi wanita yang tengah hamil muda (di bawah 1 bulan)
posisi hubungan intim yang aman adalah yang tidak membebani kandungan
dalam perut. Posisinya yaitu, 'doggie-position' atau 'side by side
position' (posisi miring).
Akan tetapi, bila wanita tersebut pernah mengalami keguguran sebaiknya
hubungan intim ditunda sampai usia kehamilan telah masuk 16 minggu (4
bulan).

Hal yang sama juga disampaikan oleh dr M Nurhadi Rahman, SpOG, dokter
kandungan yang berpraktik di RS Sardjito, Yogyakarta. Menurutnya, hubungan
seks perlu dan boleh saja dilakukan saat hamil.
“Bisa pada usia kandungan berapa saja asalkan aman dan tidak menyebabkan
bahaya pada ibu dan janinnya. Kalau kehamilannya normal silakan saja, tetapi
kalau ada keluhan dari ibunya seperti flek atau kontraksi berulang tapi tidak
melahirkan, juga atau keguguran sebaiknya tidak dilakukan,” tegas dr Nurhadi.

Mengenai posisi, dr Nurhadi mengatakan tergantung si ibu, posisi harus
senyaman mungkin bagi tubuh ibu hamil. Tetapi ia mengingatkan, posisi seperti
missionary (man on top) tidak diperbolehkan karena ketika lelakinya bertumpu,
maka beban ibu akan semakin berat.
“Yang boleh itu doggy style, woman on top, dan posisi lain di mana wanitanya
yang mengatur gerakan, sehingga ia merasa nyaman dengan kandungannya.
Yang penting ibu dan kandungannya terjaga,” tutup dr Nurhadi.

TES URINE BISA TENTUKAN HARAPAN HIDUP


Urine yang selama ini
dijadikan indikator kesehatan ternyata
dapat membantu memprediksi harapan
hidup seseorang. Sebuah laporan dari
National Kidney Foundation's American
Journal of Kidney Diseases menunjukkan
adanya hubungan yang kuat antara
tingkat protein dalam urine (proteinuria)
dan risiko kematian.

Berdasarkan laporan tersebut, orang
sehat cenderung memiliki tingkat
proteinuria yang rendah. Hal ini
menandakan ginjal berfungsi dengan baik
sebagai organ yang menyaring protein
agar tetap ada di dalam tubuh. Protein
yang ikut terbuang menandakan ada
kerusakan tertentu yang menyebabkan
ginjal bocor.

"Laporan kami menunjukkan, proteinuria
tinggi bisa mengurangi angka harapan
hidup pada sebagian besar pria dan
wanita," kata peneliti Dr Tanvir
Chowdhury Turin dari University of
Calgary. Penelitian ini menggunakan 810
ribu sampel urine pasien yang tidak
diopname di Alberta, Kanada. Para
pasien juga tidak mempunyai riwayat
penyakit yang berhubungan dengan
ginjal.

Hasil penelitian menunjukkan, tingkat
proteinuria sedang sampai tinggi
menurunkan angka harapan hidup usia
30-85 tahun pada pria dan wanita. Pria
dan wanita usia 40 tahun tanpa
proteinuria memiliki harapan hidup 15,2
dan 17,4 tahun lebih lama dibanding
yang memiliki level proteinuria tinggi.
Wanita dan pria tanpa proteinuria juga
memiliki harapan hidup 8,2 dan 10,5
tahun lebih lama dibanding yang memiliki
level proteinuria sedang.

Pengujian proteinuria biasanya
menggunakan dipstick dan dapat
dilakukan di laboratorium mana pun.
Dalam kondisi sehat, biasanya masih
ditemukan proteinuria dalam jumlah
kecil. Jumlah proteinuria sedang sampai
besar menandakan adanya kesalahan
pada sistem penyaringan (glomeruli)
atau luka di area ginjal. Kondisi ini bisa
menjadi gejala penyakit
glomerulonephritis. Infeksi pada jalan
urine seperti cystitis atau pyelonephritis
juga menjadi penyebab tingginya level
proteinuria.

Dalam kondisi sehat, seseorang bisa
mengeluarkan proteinuria berkisar 0-8
mg/dL. Normalnya jumlah kecil protein
yang lolos masuk ke dalam ginjal mampu
kembali diserap tubuh. Hal ini mungkin
karena ginjal juga mengendalikan jumlah
protein dalam darah. Bila protein dalam
darah sudah terlalu tinggi, barulah
protein tersebut lolos dan bergabung
menjadi urine. Besarnya proteinuria yang
keluar ditandai urine yang berbusa
(foamy).

Makin besar proteinuria yang keluar,
semakin tinggi angka penanda pada
dipstick (penanda level urin). Angka 1+
diperuntukkan bagi proteinuria sebanyak
30 mg/dL atau setara kurang dari 0,5 g/
hari. Angka 2+ menandakan proteinuria
yang keluar adalah 100 mg/dL atau
setara 0,5-1 g/hari. Angka 3+ adalah
untuk proteinuria yang keluar sejumlah
300 mg/dL atau setara kurang dari 1-2 g/
hari. Angka tertinggi 4+ ditujukan untuk
proteinuria yang lebih dari 200 mg/dL
atau setara lebih dari 2 g/hari.

Sebelumnya, hanya diketahui hubungan
antara tingkat proteinuria dengan gejala
awal timbulnya penyakit yang berkaitan
dengan ginjal. Dengan adanya penelitian
ini, memungkinkan seseorang mengetahui
risiko langsung terhadap hidupnya dan
merencanakan langkah penyembuhan
sejak awal

Rabu, 03 April 2013

Benarkah Energi Sekali Ejakulasi Sama Dengan Energi Lari 100m?


                Energi yang dibutuhkan saat berhubungan seks memang tidak sedikit, sampai-sampai sesudahnya badan langsung terasa loyo. Ada yang mengatakan,tenaga yang dikeluarkan saat ejakulasi saja bisa menyamai sprint atau lari cepat 100 meter.
                Anggapan tentang besarnya energi untuk ejakulasi sangat populer di kalangan anak muda di Jepang. Begitu populernya, sampai-sampai sebuah majalah online di negara tersebut secara khusus mewawancarai seorang ahli kesehatan untuk mengulas kebenarannya.
                Dr Ryukou Suda dari Shinjuku Life Clinic dihadirkan dalam sebuah rubrik di situs R25 untuk menjawab rasa penasaran kaum muda di Jepang. Dari komentar awalnya, tampak bahwa sang ahli kesehatan agak meragukan klaim bahwa ejakulasi membutuhkan energi sertara dengan lari 100 meter.
                "Ini sangat sulit untuk mengukur karena tidak ada standar pasti tentang energi yang dibutuhkan dalam sekali ejakulasi," kata Dr Ryukou seperti dikutip dari Rocketnews24, Rabu (3/4/2013).
                Meski demikian, sang ahli kesehatan masih berusaha untuk memberikan penjelasan yang lebih memuaskan. Tentunya bukan tanpa alasan jika Dr Ryukou meragukan hal itu. Akhirnya, dijelaskanlah perhitungan kasarnya dengan menggunakan kalkulasi Metabolic Equivalent of Task (MET).
                Skor MET digunakan untuk membuat perbandingan jumlah energi yang dibutuhkan dalam setiap aktivitas fisik. Jalan kaki misalnya, menurut Dr Ryukou memiliki skor MET antara 3,0 hingga 4,0 sedangkan jogging atau lari kecil meiliki skor MET sekitar 7,0.
                "Rata-rata, hubungan seks yang hebat memiliki skor MET sekitar 1,3. Dengan kata lain, dalam skala tenaga, tidak akan mungkin energi dalam sekali ejakulasi bisa menyamai lari cepat atau sprint," tandas Dr Ryukou.
                Terjawab sudah, akhirnya ahli kesehatan telah menunjukkan bukti bahwa ejakulasi tidaklah seberat tenaga untuk lari cepat. Bahwa kemudian banyak laki-laki langsung lunglai dan terengah-engah, barangkali karena memang sensasinya yang luar biasa menyenangkan.

KIAT MENGKONSUMSI OBAT HERBAL


                Obat-obatan tradisional berbahan herbal sejak lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia. Alam Nusantara memang sangat kaya akan bahan-bahan herbal, bahkan Indonesia disebut sebagai negara ketiga di dunia yang memiliki keanekaragaman tumbuhan tertinggi di dunia.
                Untuk meningkatkan konsumsi obat herbal, Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghurfron Mukti sempat mengusulkan agar obat herbal dimasukkan ke dalam salah satu pengobatan yang dijamin dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional.
                Namun, obat herbal yang masih diproses secara tradisional atau rumahan belum dapat dipastikan jumlah kandungannya secara tepat, sehingga bisa menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan jika penggunaannya tidak tepat. Untuk mencegah hal tersebut, simak kiat konsumsi obat herbal yang aman menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
1. Jangan mengonsumsi melebihi dosis dan gunakan sesuai aturan yang tertera pada kemasan.
2. Bila terjadi efek yang tidak diinginkan, segera hentikan penggunaan dan hubungi dokter.
3. Informasikan ke dokter yang sedang merawat Anda, karena beberapa bahan dalam obat tradisional dapat berinteraksi dengan obat kimia, sehingga dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.
4. Jangan mengonsumsi obat tradisional yang mengandung bahan yang diketahui dapat menyebabkan alergi.
5. Hati-hati pada penderita hipertensi, gangguan fungsi jantung, ginjal, dan hati karena ada beberapa bahan yang dapat memperburuk keadaan. 6. Hati-hati jika sedang menjalani diet rendah gula, karena selain mengandung bahan berkhasiat, obat tradisional kadangkala juga mengandung bahan tambahan seperti pemanis.
7. Hati-hati jika sedang hamil atau merencanakan kehamilan, karena beberapa bahan dapat mempengaruhi janin.
8. Hati-hati untuk wanita menyusui karena beberapa bahan dapat dieksresikan melalui air susu ibu yang kemungkinan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan pada bayi.

DEMAM CIKUNGUNYA


                Demam Chikungunya disebabkan oleh infeksi virus Chikungunya. Virus ini masih satu keluarga dengan Virus Dengue, penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus ini masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes Albopictus yang juga nyamuk penular DBD.
                Demam Chikungunya sering rancu dengan DBD karena mempunyai gejala yang awal yang hamper sama, tetapi gejala nyeri sendi merupakan gejala yang penting pada demam Chikungunya. Tetapi untuk pasti membedakannya adalah dengan pemeriksaan laboratorium darah pada demam hari ke 3. Serangan demam Chikungunya dalam bentuk KLB (kejadian luar biasa) sudah sering terjadi, terutama pada musim penghujan.
                Nyamuk Aedes yang sudah terinfeksi virus Chikungunya bila menggigit manusia akan menularkan virus Chikungunya. Di dalam tubuh manusia, virus tidak serta merta menimbulkan gejala, tetapi memerlukan masa berkembangbiakan (masa tunas) 1-12 hari untuk dapat menimbulkan gejala.
Gejala-gejala Demam Chikungunya adalah :
Demam mendadak tinggi, disertai menggigil dan muka kemerahan. Panas tinggi selama 2-4 hari kemudian kembali normal.
Sakit persendian . Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam dan dapat bermanifestasi berat, sehingga kadang penderita merasa lumpuh. Sendi yang sering dikeluhkan: sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang.
Nyeri otot. Nyeri bisa terjadi pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan daerah bahu. Kadang terjadi pembengkakan pada pada otot sekitar mata kaki.
 Bercak kemerahan ( ruam ) pada kulit. Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam, tetapi lebih sering pada hari ke 4-5 demam. Lokasi biasanya di daerah muka, badan, tangan, dan kaki. Kadang ditemukan perdarahan pada gusi.
Nyeri kepala : nyeri kepala merupakan keluhan yang sering ditemui.
Kejang, biasanya pada anak karena panas yang terlalu tinggi, jadi bukan secara langsung oleh penyakitnya.
Gejala lain . Gejala lain yang kadang dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher.
                Penderita demam Chikungunya sebaiknya diisolasi dari gigitan nyamuk, sehingga dapat mencegah penularan ke orang lain. Setiap orang dapat mencegah gigitan nyamuk vektor dengan kelambu, repelan, obat nyamuk bakar dan semprot atau dengan kasa anti nyamuk.
                Pencegahan terbaik adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Adanya gerakan PSN di suatu desa atau wilayah hunian akan berdampak pada penurunan angka kejadian Demam Chikungunya.
                Pengobatan demam Chikungunya adalah pengobatan simptomatis (menghilangkan gejala) dengan obat demam, dan atau anti- nyeri, disertai istirahat, dan makan minum cukup. Perjalanan penyakit ini umumnya cukup baik, karena bersifat self limited, yakni akan sembuh sendiri.
                Belum ditemukan obat spesifik untuk penyakit ini. Juga belum ditemukan vaksinasi yang berguna sebagai tindakan preventif. Namun pada penderita yang telah terinfeksi timbul imunitas / kekebalan terhadap penyakit ini dalam jangka panjang.